ENTAHLAH YANG JELAS SAYA MALU
Belum lama ini, saya membuat sebuah tulisan yang dimaksudkan untuk “meninggikan” sebuah komunitas, yang menjadikan isu kepunahan budaya sebagai perjuangan. Dengan semangat #GSDB yang selalu mereka elu-elukan, hendak mengajak kita untuk peduli akan risiko kepunahan budaya atau pengklaiman budaya, yang diakibatkan oleh kurangnya data. “Jika Indonesia kaya akan budaya, tunjukan datanya” demikian kalimat yang sering terlontar dari anggota komunitas ini. Namun sayang, dengan terpaksa saya harus membuat sebuah tulisan yang sepertinya berlawanan dengan tulisan saya sebelumnya (red: Fajar Di Tujuh Puluh Tahun Indonesia), sebagai bentuk kekecewaan saya kepada komunitas ini, terkait responnya pada mega proyek Waduk Jatigede. Mega proyek Waduk Jatigede, sudah dimulai sekitar tahun 1965. Selama lima puluh tahun ini, menurut Kabuyutan Sunda, pembangunannya telah berlangsung melalui liku-liku yang tidak selalu sesuai deng...