SURAT KECIL UNTUK KETUA UMUM SOBAT BUDAYA


Sampurasun, 

Semangat pagi, bu!, Apa kabar?, baik tentunya (demikian harapan saya). Ibu ini sosok yang sering terbaca (di group line), namun belum pernah tersapa, bahkan ketika saya ikut mebghadiri acara Jejak Tiongkok Pada Batik Nusantara, beberapa minggu lalu, di Galeri Indonesia Kaya, pun kita tak sempat bercengkrama. 

Jarak sekitar 150 km (Bandung-Jakarta), memang tidak memungkinkan untuk saya dan Ibu, serta yang lainnya untuk sekedar ngobrol santai, berdiskusi, di warung angkringan atau pun kedai kopi, secara langsung, seperti saya dan rekan-rekan di ekspeditor dan data mining, sering lakukan, akan tetapi tidak menyurutkan keinginan saya, untuk tetap berdialektika dengan Ibu, dan melalui surat kecil inilah, saya hendak melakukan itu. 

Ada hal yang menarik perhatian saya, ketika menghadiri acara di Jakarta. Pada satu sesi Ibu memberikan sebuah yel-yel (kalo saya tak salah ingat), dan kami penonton diharuskan menjawab "viva gsdb". Ketika itu, dalam hati saya sempat berguman, kok "viva"?, namun tak lantas membuat saya bertanya, kenapa "viva"?, karena saya berpikir, itu mungkin ide spontan, dan hanya akan digunakan saat itu saja (pikiran saya pada waktu itu). Tapi, pertannyaan "kenapa" kembali muncul ketika pada tanggal 2 Juli 2015, di group line SB, sebuah ucapan selamat ulang tahun, muncul, diakhiri dengan tanda tagar #vivaGSDB. Seperti biasa, tulisan ini dicopas, dan tanda tagar ini pun mnjadi tarnding topic di group. 

Tentunya Ibu tahu, jika budaya lahir karena sebuah kebiasaan, dan timbul pertanyaan saya, apakah "vivaGSDB" ini, akan dibiasakan?, khususnya dikalangan internal?, baik secara lisan atau pun secara tulisan?, dan pertanyaan lain muncul, apa vivaGSDB ini?, yel-yel kah?, jargon, slogan, atau moto?. Jika kita hendak menarik benang merah dari arti kata, yel-yel, jargon, slogan, moto, benang merahnya adalah semangat. 

Kata merupakan bagian dari bahasa, dan bahasa merupakan salah satu dari 7 (tujuh) unsur kebudayaan. Bahasa bisa lestari jika dibiasakan, diaktualisasikan, begitu pun dengan penggunaan "viva". Secara arti tidak ada yang salah dengan kata ini, karena jika viva yang dimaksud adalah viva yang berasal dari bahasa latin, viva berarti hidup, bahkan sebetulnya sudah menjadi kata yang umum digunakan berbagai bangsa untuk mengungkapkan dan memaknai hidup. Namun sepertinya menggunakan kata yang berasal dari ranah budaya sendiri jauh lebih baik. Selain ikut melestarikan bahasanya, juga menunjukan dari mana kita berasal. Sebagai contoh bagaimana masyarakat kita sangat antusias dengan film fast and furios 6, karena salah satu aktor kita Joe Taslim, ikut andil dalam film tersebut, ditambah dalam salah satu adegan di film tersebut, Joe Taslim berkata "hantam"  (kalo tidak salah), dan penggunaan kata hantam itu poin terpntingnya, dan orang pun tahu dari mana Joe berasal. 

Lalu jika vivaGSDB ini memang dimaksdkan untuk yel-yel/jargon/slgan/moto, rasa-rasanya juga kurang tepat. Sebagaimana saya sampaikan di atas benang merah dari yel-yel/jargon/slogan/moto, adalah semangat, dan yel-yel sampai moto biasannya diciptakan hendak mewakili semangat organisasi/komunitas itu lahir. Maka tidak heran jika ada organisasi atau komunitas yang sangat hati-hati dan berani membayar ahli bahasa demi hal tersebut, demi semangat serta citra organisasi/komunitas terwakili dan tersampaikan oleh kata tersebut. Dan tentunya, semangat apa yang melatarbelakangi GSDB dan Sobat Budaya ini lahir?, Ibu tahu, dan jauh lebih tahu dari saya.  

Sedari awal surat ini, saya tidak mengatakan benar atau salah, apalagi sampai memberikan cap Halal-Haram kata viva digunakan, karena saya bukan MUI. Bahkan karena hal ini, lahirlah tulisan ini, kebiasaan menulis yang saya tinggalkan semenjak MU gagal masuk zona liga champions. 

Alangkah senang hati saya, jika surat ini mndpat balasan dari Ibu Wulan Guritno, eh, maksud saya Wulandari, agar saya tidak monolog, seperti cinta sobat saya fickri yang selalu monolog :D , tanpa ada balasan dari Ayu sehingga tidak ada dialog, karena dalam dua hal ini monolog tidak asyik.

Jika surat ini dianggap krtikan tentu saya sudah siap, jika, terdapat banyak kesalahan dari isi surat ini, dan Ibu pun balik mengkritik saya, kenapa saya siap?, karena saya bukan Sun Go Kong yang terlahir dari batu, tetapi Jenal Mustofa yang terlahir dari Rahim (kasih sayang) seorang Ibu :). 

Sampurasun. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ENTAHLAH YANG JELAS SAYA MALU

SEBAIKNYA FILIPINA DATANG KE TEMPAT INI SOAL SEPATU

SENI SEBAGAI MEDIA TAUHID KAUM SUFI