SENI SEBAGAI MEDIA TAUHID KAUM SUFI

Berawal dari pertanyaan mengapa para Kiai di pondok pesantren banyak yang menentang kesenian, bahkan ada yang sampai mengharamkan. Namun disisi lain kaum sufi banyak yang menggunakan kesenian sebagai media ibadah khususnya tauhid. Di Indonesia sendiri para penyebar Agama Islam menggunakan seni sebagai media dakwah, lalu apa sebetulnya seni itu?, lalu siapakah kaum Sufi itu dan apakah tauhid itu?.

Seni pada mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu. Dewasa ini, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi dari kreatifitas manusia. Seni juga dapat diartikan dengan sesuatu yang diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan. Seni sangat sulit untuk dijelaskan dan juga sulit dinilai, bahwa masing-masing individu seni memilih sendiri peraturan dan parameter yang menuntunnya atau kerjanya, masih bisa dikatakan bahwa seni adalah proses dan produk dari memilih medium, dan suatu set peraturan untuk penggunaan medium itu, dan suatu set nilai-nilai yang menentukan apa yang pantas dikirimkan dengan ekspresi lewat medium itu, untuk menyampaikan baik kepercayaan, gagasan, sensasi, atau perasaan dengan cara seefektif mungkin untuk medium itu. Sekalipun demikian, banyak seniman mendapat pengaruh dari orang lain masa lalu, dan juga beberapa garis pedoman sudah muncul untuk mengungkap gagasan tertentu lewat simbolisme dan bentuk (seperti bakung yang bermaksud kematian dan mawar merah yang bermaksud cinta).1
Tauhid adalah konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah. Tauhid dibagi menjadi 3 macam yakni tauhid rububiyah, uluhiyah dan Asma wa Sifat. Mengamalkan tauhid dan menjauhi syirik merupakan konsekuensi dari kalimat sahadat yang telah diikrarkan oleh seorang muslim dan yang terakhir Sufi adalah istilah untuk mereka yang mendalami ilmu tasawwuf, sejenis aliran mistik dalam agama Islam.

Seperti yang disampaikan di awal tadi bahwa kita sedikitnya akan membahas tentang Seni Sebagai Media Tauhid Kaum Sufi yang dilakukan oleh Wali Sembilan ataupun sebenarnya lebih dikenali sebagai Wali Sanga atau Wali Songo. Menurut cerita rakyat dan pandangan umum dalam sastera Jawa, Islam telah tersebar di Jawa adalah hasil kejayaan sembilan pendakwah yang bergabung dalam suatu dewan yang disebut Wali Songo ini.

Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus dan Sunan Muria merupakan para wali yang menggunakan seni sebagai media tauhid mereka. Sunan Kalijaga merupakan seorang wali yang menggunakan seni terutamanya wayang. Wayang merupakan salah satu warisan bangsa Indonesia yang telah berkembang selama berabad-abad dan pada zaman kerajaan Majapahit, seni wayang ini lebih dikenali dengan nama pementasan wayang beber yaitu wayang yang bentuknya dibentangkan. 
 
Selain Sunan kalijaga, Sunan Bonang merupakan wali yang telah menggunakan alat musik yaitu bonang. Hal ini demikian kerana kebanyakan masyarakat di Tuban amat menggemari lagu-lagu gending gamelan, maka Sunan Bonang menggunakan media tersebut. Kebijaksanaan beliau membunyikan alat musik tersebut dengan diiringi tembang-tembang yang berupa pantun-pantun keagamaan telah berjaya mempengaruhi masyarakat Tuban untuk mempelajari lagu tembang tersebut dan akhirnya mempelajari agama Islam. Salah satu tembang Sunan Bonang yang terkenal sehingga sekarang adalah tembang yang selalu dilagukan oleh Kyai Langgeng bertajuk Tombo Ati. Sunan Drajat pun telah menciptakan pupuh Pangkur dan mijil. Oleh karena itu, penggunaan kesenian sebagai salah satu cabang untuk ketauhidan ini secara tidak langsung telah memberi sumbangan dalam mengekalkan kesenian tradisi masyarakat Jawa.

Selain itu, kebudayaan Jawa juga kekal hasil sumbangan daripada beberapa wali yang tidak menghapuskan kebudayaan Jawa yang mempunyai unsur Hindu. Hal ini demikian kerana adat dan budaya yang menggunakan mantera-mantera tidak dihapuskan tetapi sebaliknya digantikan dengan prinsip-prinsip Islam seperti membaca alquran, tahlil dan doa-doa.

Jelaslah sudah bahwa cara setiap insan mendekatkan diri kepada sang khaliknya tentu saja berbeda-beda, bahkan seni pun terbukti secara ampuh bias menjadi media mendekatkan diri yang dilakukan oleh para kaum yang secara ilmu agama sudah mumfuni.

1Sumber: Wikipedia, (online: 26-04-2011, 12:59 AM)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ENTAHLAH YANG JELAS SAYA MALU

SEBAIKNYA FILIPINA DATANG KE TEMPAT INI SOAL SEPATU

AH SUDAHLAH.......