FAJAR DI TUJUH PULUH TAHUN INDONESIA



































Sumber Foto: dok. Pribadi


Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengisi kemerdekan Negara Republik Indonesia ke-70 tahun. Ada yang mengisinya dengan kegiatan yang sudah lazim dilakukan setiap tahun, seperti lomba-lomba, pengibaran bendera di puncak gunung, pengibaran bendera di dasar laut, festival kesenian, dan ada juga yang mengisinya dengan mengadakan kemah kedaulatan, sambil mengkritisi kinerja pemerintahan. Dan biasanya sekalipun jenis kegiatannya sama, namun tiap daerah dan organisasi menyelenggarakan kegiatannya berbeda, karena ada motivasi untuk menjadi paling meriah di antara daerah lain.

Seperti Pemkab. Purwakarta, dalam rangkain hari jadi Kabupaten Purwakarta ke-47, serta kemerdekaan Republik Indonesia ke-70 tahun, Pemkab. Purwakarta selama bulan Agustus menyelenggarakan Festival Budaya yang diikuti oleh 14 negara. Acara tersebut diisi dengan seminar, pertunjukan kesenian, pameran dan lain sebagainya. Atau acara kemah kedaulatan yang berlangsung dari tanggal 14-17 Agustus 2015, bertempat di lembah Merapi Yogyakarta, yang diselenggarakan oleh jaringan aktivis yang mengatasnamakan ProDem (Pro Demokrasi). Dalam acara yang berlangsung selama empat hari ini, acara diisi dengan seminar-seminar, serta FGD tentang sudah sejauh mana negara kita berdaulat dalam berbagai bidang. Dan baik Festival Budaya Purwakarta maupun kemah kedaulatan Prodem, keduanya diselanggarakan dengan meriah dan tentu saja dengan biaya yang besar.

Lain dengan dua hal di atas, sebuah komunitas yang terlahir di Kota Kembang Bandung, mengisi hari kemerdekaan dengan cara yang berbeda, jauh dari kesan mewah, gelamor, namun boleh dikatakan meriah, dan tentunya dengan biaya yang tidak bisa disandingkan dengan dua acara di atas. Komunitas yang terlahir atas keperihatinan akan banyaknya budaya Indonesia yang tidak terdata dan berakibat pada punahnya budaya tersebut, serta pengklaiman oleh negara tetangga ini, lebih memilih acara yang bertujuan sosial. Sharing For Caring, Sobat Budaya menamakan acara tersebut. Bertempat di Panti Asuhan Fajar Harapan yang beralamtakan di jalan Surapati no. 225. Pada tanggal 23 Agustus 2015 Sobat Budaya sudah berbagi keceriaan dengan adik-adik panti asuhan dari pukul 07.30 WIB. Dimulai dengan bermain boi-boian, yang merupakan salah satu permainan tradisi masyarakat Sunda, lalu berbagi cerita tentang Karang Bolong yang disampaikan oleh Kang Agung, persembahan vokal group, tarian manuk dadali dan qasidahan oleh adik-adik panti asuhan. 

Sesuai dengan namanya, Panti Asuhan Fajar Harapan, hari itu, Sobat Budaya memposisikan diri sebagai Fajar, yang kalau boleh saya menafsirkannya adalah, secercah cahaya ditengah kegelapan yang menjadi pengharapan orang-orang yang masih terlelap tidur. Dan Sobat Budaya lah cahaya itu, yang menjadi pengharapan adik-adik di panti asuhan dengan kesediaan mengisi 70 tahun kemerdekaan Indonesia dengan mereka, ketika yang lain lebih memilih mengisi kemerdekaan hanya untuk kesenengan mereka semata. 
 
Lalu adakah korelasi antara upaya melestarikan budaya bangsa, dengan acara berbagi di panti asuhan?. Apakah dengan mengawali kegiatan dengan bermain boi-boian?. Ya, itu bisa dikatakan salah satu bentuk pelestarian juga, namun ada hal yang jauh lebih besar yang dilakukan komunitas ini, yang mungkin jika melihat secara sekilas kita tidak akan sadar.

Silih asah, silih asuh, silih asih, yang merupakan karakter masyarakat Sunda, yang secara sederhana bisa diartikan bahwa masyarakat Sunda harus saling menajmkan pemikiran (berbagi dalam ilmu pengetahuan), saling membimbing, dan saling menebar kasih sayang. Dan itu semua tercermin dari kegiatan yang dilakukan oleh komunitas Sobat Budaya ini. Artinya Sobat Budaya sudah melakukan pelestarian prilaku budaya dengan menggelar acara di panti asuhan ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ENTAHLAH YANG JELAS SAYA MALU

SEBAIKNYA FILIPINA DATANG KE TEMPAT INI SOAL SEPATU

AH SUDAHLAH.......